Selasa, 28 Oktober 2014

Pendakian ke Gunung Papandayan

17, 18, 19 Oktober 2014


Perjalanan yang akan gue tulis kali ini ialah ke Gunung Papandayan, Garut. Ini kali pertama gue naik gunung yang ‘bener-bener gunung’.  Sewaktu Pramuka di SMK hanya nanjak bukit dan tebing di daerah Tajur, Bogor.
Dan sekarang bisa merasakan gimana sensasinya berada di area Gunung Papandayan.
Gunung ini memiliki ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut. Cukup lahh untuk seorang pemula kayak gue. Hehe :p
Gue jalan berempat sama temen-temen JSP, yaitu abang tersayang (bang Ipul), Gembul Kukus, dan Kak Genny. Orang-orang ini memang selain hobby motret juga hobby travelling.. Yaa namanya juga penikmat pemberian Tuhan. Yang penting tidak ‘merusak’ J okeoke (y)

Kita berangkat Jumat malam dari terminal Kampung Rambutan.
-       Ongkos bus dari Kampung Rambutan ke terminal Garut 42.000.
-       Lamanya perjalanan sekitar 4,5 jam kalau tidak terkena macet.

Sampai di terminal Garut, pasti ada orang yang menawarkan angkot untuk ke perbatasan. Di terminal Garut juga kita gabung sama temen-temen bulkus, mereka berempat juga. Alhamdulillah jadi banyak orangnya. Hehe
-       Ongkos angkot sekitar 15-25rb perorang. Tergantung bagaimana kita menawarnya saja. Satu angkot berisi kurang lebih 11 orang, itu juga udah sempit banget.. hihi dan tas di ikat di atas angkot.
-       Lamanya perjalanan sampai ke perbatasan kurang lebih 40 menit.
Lalu di perbatasan, kami menyewa mobil pick up. Per orang dikenakan biaya 20.000. sekitar 30menit kita sudah sampai di tempat tujuan. Kalau mobil pick up-nya ngebut, bisa kurang dari 30menit.

Udara pagi itu sangatlah sejuk.. mobil yang kami tumpangi cenderung ngebut sehingga angin pun lebih terasa ke seluruh badan. Pemandangan yang kami temui sangat indah, di seberang sana terlihat Gunung Cikuray beserta kabut. Sungguh besar Kuasa-Nya.
Setelah sampai di pos 1, kami wajib lapor dan satu orang menyerahkan fotokopi KTP. Per orang di kenakan biaya 5000rupiah.
NB: lain halnya dengan warga asing yang ingin masuk ke gunung Papandayan. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam, yaitu 100.000rupiah untuk hari Sabtu, sedangkan untuk hari Minggu sebesar 150.000rupiah.

Sudah daftar, kami pun mampir ke salah satu warung di sana untuk ngopi dan sarapan. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke atas. Semakin jauh berjalan, semakin dekat dengan Kawah Papandayan. Bau belerang tak terhindar lagi. untung kami sudah menyiapkan masker penutup hidung. Sempat kami beristirahat di dekat kawah serta mengambil beberapa foto.





Lanjut perjalanan menuju tempat camp (Pondok Salada). Sebelum ke pondok Salada, kami harus lapor dan beristirahat di POS 2. Lamanya perjalanan kurang lebih 2 jam. Cukup membuat kaki cenat-cenut saat melewati tanjakkan yang menurut gue lumanyan mengerikan.. hehe

Dari POS 2 ke tempat camp hanya butuh waktu sebentar. Sampai di Pondok Saladah, kami duduk-duduk sebentar dan langsung mendirikan tenda. Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, udara masih tetap dingin menurut gue. Mungkin karena gue kebanyakan diem. :o
Tenda selesai didirikan, kami langsung tertidur.. hehehe maklum, ngantuk beraaaatttt.


Agak sore, sekitar pukul set3, kami melanjutkan perjalanan untuk ke hutan mati dan padang edelweiss. Untuk mencapai padang edelweiss atau biasa di sebut ‘Tegal Alun’ kami membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam. Itu pun sudah termasuk istirahat jika terasa lelah.

Di hutan mati, kami mengambil foto sejenak untuk dokumentasi. Lalu melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Sebelum mendapat bonus (jalanan lurus), kami harus melewati jalanan yang cukup menguras tenaga buat gue yang seorang pemula. Hehe :p dengan udara yang tetap dingin, dan kabut yang mulai berdatangan, kami makin semangat untuk mencapai puncak.

Sampailah kami di Tegal Alun.




Senang rasanya bisa sampai di sini.
Kami berfoto riaaaa..





Setelah cukup berfoto dan beristirahat, kami pun turun karena melihat cuaca yang semakin berkabut tebal serta waktu yang sudah mulai gelap. Di perjalanan turun sempat gerimis rintik-rintik. Untung saja tidak terlalu lama dan tidak pula hujan.
Sepanjang perjalanan ke tenda, kami pun mengumpulkan kayu/ranting yang berjatuhan untuk di bakar nanti malam.
Sesampainya di tenda.. dingin semakin terasa.. bulkus masak dan gue tertidur.. hehehe :p
Masih jam 7 padahal, tapi mata sudah tak tertahankan.. bermimpilah diriku. Setengah 3 gue terbangun. Sepertinya di luar hujan dan tenda kami sempat bocor. Alhamdulillah dapat pengalaman. Hehehe
Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan bersiap untuk pulang.
Tepat pukul set10 kami turun. Sampai di pos 1, hujan mulai turun. Untungnya kami sudah sampai bawah, jadi bisa berteduh di warung. Setelah hujan kami pun pulaaaanggg dan siap mengukir kenangan bersama Gunung Papandayan.
Pengalaman yang sangat berharga. Sungguh besar Kuasa-Nya.

Terima Kasih Tuhan.
Terima Kasih Papandayan.
Terima Kasih Kamu :*
Terima Kasih Kalian.

Dokumentasi di atas by: Kamera pribadi, kamera bang Ipul, kamera Bulkus, kamera kak Genny, kamera Alif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar