Senin, 10 November 2014

RESENSI THE DUSTY SNEAKERS



Judul Buku:     The Dusty Sneakers
Penulis:            Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang
Tahun Terbit:   2014, Cetakan I
Penerbit:          Noura Books
Kategori Buku:Nonfiksi

Sebuah kisah perjalanan yang membuat pembaca dapat membayangkan ada di dalamnya. Kisah persahabatan dua orang yang memutuskan untuk membuat blog perjalanan bersama sebagai alat komunikasi. Gypsytoes dan Twosocks sama-sama mencintai buku dan sama-sama mencintai sebuah perjalanan, juga kejutan-kejutan yang ada di dalamnya. Perbedaan mereka adalah Gypsytoes tumbuh besar dengan cerita-cerita fantasi, sementara Twosocks dibesarkan dengan kisah-kisah dunia perwayangan.
Jarak yang memisahkan mereka tak menghalangi Gypsytoes dan Twosocks untuk tidak berbagi kisah. Gypsytoes di Belanda sekaligus meneruskan studinya, sedangkan sahabatnya Twosocks di Jakarta. Jarak yang terpaut jauh, bukan?
Gypsytoes dengan perjalanannya ke Paris, menyusuri negeri dongeng di Praha, Italia, Roma serta kisah persahabatannya dengan Kiran, gadis Nepal berambut keriting. Dan Twosocks dengan perjalanannya ke Merauke, menjelajahi gunung, Baduy, Bali, serta persahabatan uniknya dengan Arip Syaman, pemuda jebolan pondok pesantran Ngabar,  Ponorogo.

Gypsytoes mengunjungi toko buku Shakespeare and Co., sebuah sudut di Paris yang meninggalkan jejak para pujangga sebesar Hemingway atau F. Scott Fitgerald. Ia teringat obrolannya dengan Twosocks “Para penulis muda yang berkelana dari berbagai belahan dunia diperbolehkan untuk tinggal di sana selama yang mereka mau. George Whitman hanya meminta para penginap untuk menuliskan kisah hidupnya masing-masing dan meninggalkannya sebelum mereka pergi.”
Sedangkan Twosocks, cerita dari Timur membuat siapa pun yang membacanya berpikir tentang negeri ini, tentang Indonesia tercinta. Bahwa masih ada sudut di belahan Indonesia yang ditempatkan di bagian yang menyendiri. Papua secara umum, adalah wajah Indonesia yang lain. Dari Baduy kita belajar dari keteguhan mereka menjalani adat dan warisan leluhur dengan tulus. Tak mengenal alat elektronik, tidak menikmati listrik, mandi tanpa sabun, menyikat gigi tanpa pasta gigi, dan mencuci tanpa deterjen, semua itu dilakukan oleh mereka, kita harus menghormatinya.
Mereka akhirnya bertemu setelah setahun hanya melihat gambar dua dimensi di layar komputer serta membaca kisah-kisah yang ditulis di blog. Twosocks mencari Gypsytoes di Bangalore, India. Selama sepuluh hari bersama, mereka kembali berjalan-jalan, menari, melompat dan berbicara tentang petualangan mereka tanpa henti. Sungguh sangat ceria bersahabat Twosocks dan Gypsytoes.
Penulis membawakan cerita dengan apik dan memberi pengetahuan-pengetahuan baru tentang Indonesia dan benua Eropa. Bahasa persuasif  yang membuat iri pembaca yang tak ingin berhenti menelusuri setiap kalimat dalam buku ini. Bagi para ‘pejalan’ dan penikmat dunia, buku ini cocok untuk dibaca. Kalian harus beli!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar