Senin, 16 Desember 2013

Kartini-nya Wartawan


Liputan perdana gue keluar kampus dan yang jauh adalah ke Bentara Budaya, Jakarta (samping Kompas). Gue dan temen gue bernama Fia memutuskan untuk pergi liputan naik motor. Kita berdua naik motor dan kita berdua pula memboncengi teman perempuan juga. Karena nggak tau jalan, gue hanya di belakang ngikutin temen-temen cwo. Biar ga terlalu ketinggalan dan mengenali itu teman kita atau bukan, jadi yang di boncengi itu memakai almamater kuning dari PNJ.

Lumanyan jauhhh, lumanyan pegel dan lumanyan nyut-nyutan ini kepala keberatan sama helm. Hehe

Kita mampir sebentar di gedung DPR & MPR (depannya doank) untuk nunggu temen yang ketinggalan di belakang.



Engga lama,  kita lanjutin lagi perjalanannyaa. Sampai disana udah banyak yang datang.  Mulai dari aktris, cerpenis, novelis, bahkan orang-orang pengusaha pecinta lukisan yang ingin membeli lelangan dari lukisan-lukisan yang akan di lelang ketika itu. Kebanyakan lukisan yang di lelang adalah dari ilustrasi cerpennya bang Hamsad.
Gue dan kami kesana dalam rangka “Malam Solidaritas untuk Hamsad Rangkuti”. Beliau seorang cerpenis terkenal yang sudah mempunyai karya yang luar biasa banyak, dan beliau waktu itu sedang di rawat di rumah sakit. 





Berbagai acara telah di ikuti, dari pembacaan cerpen, puisi, music dan bernyanyi. Jam menunjukkan pukul 23 lewat, kami masih disana sambil makan yang sudah disediakan. Gue wawancara dan juga berfoto di beberapa lukisan. Lukisan dan cerpen yang paling fenomenal adalah “Maukah kau menghapus bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” judul yang cukup panjang menurut gue, namun hafal, hahaha =D


Sebelum pulang, gue foto-foto dulu sama yang lain di depan Bentara Budaya. Padahal sudah hampir mau jam 12 malam, dan gue masih disana. Sungguh ini pengalaman pertama kalinya gue keliaran tengah malam sampai jam segini.



Selesai foto, kita nunggu anak-anak yang taadi sore berangkat bareng, nuggu lumanyan lama di tempat parker. Ternyata mereka mau ke monas dulu. Bingung banget waktu itu. Soalnya tinggal gue sama fia  yang cwe dan arah ke depok dan juga hmmmmmm ngendarain motor sendiri.

Ada lagi permasalahannya, GUE GAK TAU JALAN !

Nahhh, komplit banget dehh malam ini. Setelah sekian menit menunggu, akhirnya ada yang ngalah untuk pulang ke depok. Gue biasa manggil dengan sebutan jawa. Akhirnya kita mutusin kalau jawa naik motor fia dan gue boncengin fia, tujuannya adalah bila gue di takdirkan untuk nyasar, setidaknya gue engga nyasar sendirian, tapi nyasar bareng fia. Hehehe

Sepanjang perjalanan gue ngobrol ngalur-ngidul sama fia. Karena suasananya dingin banget, anginnya kurang bersahabat, jadi gue berusaha untuk cerewet supaya setidaknya suasana hati gue bisa hangat #halaaah

Dan gue juga ga nyangka kalau setengah satu tengah malam, itu budaya macet di ibu kota Jakarta tetap berlaku. Gue pikir perjalanan gue pulang bakal lancar kayak jalan tol, ternyata perkiraan gue salah. Seketika panas menyelubungi badan saat macet panjang telah di depan mata.

Bersabar. Itu lah kuncinya.

Akhirnya sampai di jalanan yang lengang. Gue melihat jam besar di pinggir kota, sudah hampir jam 1. Gue sama fia bener-bener ngerasain hal berbeda. Pengalaman perdana liputan di Jurusan teknik grafika dan penerbitan (JURNALISTIK).

Kita sempat berteriak di tengah kota sambil bilang………

“KITA KARTININYA WARTAWAN”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar